Semen Aspal (Asphalt Cement, AC)

Media
Semen aspal adalah aspal yang diolah untuk memenuhi syarat sebagai bahan-bahan, seperti: perkerasan, atap, industri, dan maksud-maksud khusus yang lain. Semen aspal pada temperatur ruang, yaitu sekitar 20° - 30°C berbentuk padat dan untuk membuat aspal menjadi cair, maka dipanaskan. Dalam masalah perkerasan jalan, semen aspal ini merupakan material semi-padat yang digunakan untuk membuat aspal panas (hot mix), untuk perawatan permukaan perkerasan, lapisan penutup (seal hot) dan pengisi retakan (crack filling). Macam-macam kualitas sistem digunakan untuk menspesifikasikan semen aspal dengan kekerasannya (hardness), kekentalan (viscosity), dan karakteristik kinerja yang diinginkan. Bahan tambah dan/atau perubah dapat dikombinasikan dengan semen aspal untuk merubah sifatnya. Kekentalan (viscosity) adalah suatu ukuran kemampuan aspal untuk mengalir pada temperatur yang diberikan. Aspal semakin kaku, jika kekentalannya semakin tinggi. Pengelompokan semen aspal dilakukan berdasarkan nilai penetrasi pada temperatur…
Read More

Aspal

Media
Aspal merupakan bahan pembentuk lapis permukaan dari perkerasan lentur maupun perkerasan komposit. Aspal juga digunakan sebagai bahan pengikat dalam stabilisasi tanah-dasar atau lapis pondasi. Aspal (asphalt) adalah material hasil penyaringan minyak mentah dan merupakan hasil dari industri perminyakan. Aspal merupakan material untuk perekat, berwarna coklat gelap sampai hitam, dengan unsur pokok yang dominan adalah bitumen. Hidrokarbon merupakan bahan dasar utama dari aspal yang sering disebut bitumen ini. Aspal yang terbentuk dari banyak molekul hidrokarbon ini mempunyai komposisi kimia yang bermacam-macam. Pembentukan kolloid aspal bergantung pada sifat kimia dan persen dari molekul hidrokarbon, serta hubungan satu dengan yang lain. Sifat kimia dan fisik aspal yang bermacam-macam ini, disebabkan oleh bervariasinya sumber minyak mentah dan proses penyaringannya. Di Amerika Utara, bahan pengikat umumnya disebut semen aspal (asphalt cement), sedang di Eropa disebut…
Read More

Lapis Pondasi Bawah (Subbase Course)

Media
Lapis pondasi bawah adalah lapisan yang dihamparkan di antara tanah-dasar dan lapis pondasi. Secara tipikal, bahan lapis pondasi bawah terdiri dari material granuler dipadatkan (baik dirawat maupun tidak) atau lapisan tanah yang distabilisasi dengan bahan tambah tertentu. Material lapis pondasi bawah (subbase) biasanya dirancang lebih rendah kualitasnya dibandingkan dengan material lapis pondasi (base). Dalam beberapa hal, lapis pondasi bawah dirawat atau dicampur dengan semen, aspal, kapur, abuterbang (flyash) untuk menambah kekuatannya. Menurut SNI-1732-1989-F dan Pt T-01-2002-B, macam-macam bahan dengan CBR ≥ 20% dan indeks plastisitas (PI) ≤ 10, yaitu material yang lebih baik dari tanah-dasar, dapat digunakan sebagai bahan lapis pondasi bawah. Sedang DPU (2005) mensyaratkan CBR minimum 35% (agregat kelas C) dan PI antara 4 – 9. Campuran-campuran tanah dengan semen Portland atau kapur dalam beberapa hal juga dianjurkan,…
Read More

Lapis Pondasi (Base Course)

Media
Bahan dasar dari perkerasan, umumnya berupa material granuler yang terdiri dari kerikil atau batu pecah yang mempunyai gradasi tertentu, sehingga membentuk material yang stabil, mudah dikerjakan dan dipadatkan. Lapis pondasi adalah bagian dari perkerasan yang letaknya tepat dibawah lapis permukaan. Lapis pondasi diletakkan di atas pondasi bawah, atau jika tanpa lapis pondasi bawah, maka letaknya langsung di atas tanah-dasar. Lapis pondasi mendukung beban yang berat, sehingga merupakan bagian perkerasan yang penting. Persyaratan material lapis pondasi lebih ketat dibandingkan dengan persyaratan lapis pondasi bawah atau tanah-dasar. Material lapis pondasi (base course) untuk perkerasan lentur didasarkan pada pertimbangan ekonomis, antara lain: Kerikil pecah atau tak pecah Batu pecah bergradasi Makadam Batukapur Koral Terak (slag) Bahan-bahan lapis pondasi harus cukup kuat dan awet, sehingga dapat menahan beban-beban yang bekerja padanya. Oleh karena itu,…
Read More

Lapis Permukaan

Media
Lapis permukaan (surface course) terdiri dari lapis aus (wearing course) dan lapis pengikat (binder course). Lapis aus harus mempunyai keawetan, kedap air, kerataan, dan kekesatan. Karena itu, lapisan ini harus disusun dari campuran beraspal panas (hot mix), bergradasi padat. Dalam praktek, terdapat banyak jenis campuran beraspal yang digunakan untuk lapis permukaan yang digunakan untuk lapis permukaan. Tipe campurannya dicocokkan dengan kondisi lingkungan dan beban lalu-lintas. Tabel 2.3 memperlihatkan komposisi campuran perkerasan bitumen untuk campuran aspal panas (hot mix) yang dispesifikasikan dalam ASTM D 3515. Dispesifikasikan pula dalam ASTM D 1241, gradasi agregat dari material lapis permukaan harus memenuhi syarat Tipe I, gradasi C atauD; atau untuk Tipe II gradasi E atau F (Tabel 2.4). Tabel 2.3 Komposisi campuran perkerasan bitumen padat untuk campuran aspal panas (hot mix) (ASTM D 3515-92)…
Read More

Material Perkerasan Jalan

Media
                            Perkerasan jalan dibuat dari berbagai macam material alam. Pemilihan material harus didasarkan pada beberapa pertimbangan, seperti: persyaratan struktur perkerasan, ekonomis, keawetan, kemudahan dikerjakan dan pengalaman setempat. Material untuk perkerasan lentur dan kaku, meliputi: material granuler atau agregat batuan, aspal, beton dan baja tulangan. Agregat adalah sekumpulan butiran batu pecah, kerikil pasir atau material lain, berupa material alam atau buatan. Sistem perkerasan jalan umumnya mengandung 90 – 95% agregat berdasarkan persen berat atau 70 – 75% persen volume.                              Dalam perkerasan lentur, agregat batuan digunakan sebagai material pembentuk lapis permukaan, lapis pondasi dan lapis pondasi bawah. Material tersebut harus mempunyai gradasi tertentu agar memenuhi…
Read More

Pengaruh Lingkungan

Media
               Lapisan perkerasan berfungsi sebagai penyebar beban ke tanah-dasar. Cara dimana tanah-dasar mendukung beban roda bergantung, selain pada reaksinya terhadap beban, juga terhadap pengaruh lingkungan. 1. Pengaruh Kelembaban. Air di dalam tanah-dasar dapat merupakan hasil infiltrasi air permukaan atau pengaruh dari air tanah. Dijelaskan oleh Yoder dan Witczack (1975), perubahan kadar air pada tanah-dasar akan mengakibatkan dua tipe perubahan, yaitu: Perubahan Volume tanah dan Perubahan Kekuatan. Pengaruh perubahan kadar air (kelembaban) pada kekuatan atau kekakuan tanah-dasar diperhitungkan dengan mengevaluasi parameter kekuatan tanah-dasar (contohnya, CBR dan modulus elastis) pada kadar air yang diperkirakan akan terjadi selama periode rancangan atau umur rencana. Karena itu, penting untuk mengestimasi secara tepat nilai kadar air rancangan yang sesuai dengan kondisi lapangan jangka panjang. Jadi, sensitifitas kekuatan/kekakuan tanah-dasar pada perubahan…
Read More

Tanah Dasar

Media
Perkerasan berfungsi  untuk memberikan permukaan halus pada kendaraan untuk segala musim. Kinerja perkerasan tersebut dipengaruhi oleh karakteristik tanah-dasar. Tanah sebagai pondasi  yang secara langsung menerima beban lalulintas dari lapis perkerasan yang berada diatasnya, disebut tanah-dasar (subgrade). Karena tanah-dasar merupakan bagian dasar, di mana pondasi bawah (subbase), pondasi (base) atau perkerasan berada, maka integritas dari struktur perkerasan bergantung pada stabilitas struktur tanah-dasar. Tanah-dasar merupakan tanah dengan ketebalan tertentu yang didapatkan. Umumnya, tanah-dasar yang berfungsi sebagai alas/pondasi jalan, terdiri dari material dalam galian atau urugan didapatkan dengan kedalaman tertentu dibawah dasar struktur perkerasan. Semakin kaku perkerasan, maka penyebaran tekanan roda ke tanah-tanah semakin mengecil. Dengan demikian, kedalaman tanah-dasar akan bervariasi dan bergantung pada besarnya beban dan tipe perkerasan. Perkerasan jalan sebagai lapisan pelindung tanah-dasar, mendistribusikan beban roda kendaraan ke tanag-dasar tersebut. Tanpa…
Read More

Tahanan Gelincir

Media
Kemampuan perkerasan untuk mengakomodasi pengereman kendaraan dan gerakan membelok merupakan fungsi dari tahanan gelincir atau kekesatan permukaan. Jadi, kekesatan adalah kemampuan permukaan terhadap penggelinciran roda kendaraan. Problem penggelinciran roda (slip) oleh akibat kurangnya kekesatan permukaan tersebut, biasanya terjadi pada saat permukaan perkerasan basah oleh air. Faktor-faktor penyebab penggelinciran yang menyebabkan kecelakaan antara lain: Hydroplaning ban kendaraan yang disebabkan oleh genangan air di permukaan perkerasan yang bergelombang. Kandungan agregat dengan permukaan licin di dalam struktur perkerasan terlalu berlebihan. Kegemukan (bleeding) emulsi aspal pada permukaan aspal, akibat kadar aspal yang berlebihan campuran beton aspal. Adanya tumpahan bahan berminyak di permukaan perkerasan. Ketika alur-alur terbentuk di permukaan aspal, air yang berkumpul pada lintasan roda dapat menyebabkan roda kendaraan kehilangan kontaknya dengan permukaan perkersan, sehingga roda kendaraan dapat mengalami slip. Agregat batuan dengan permukaan…
Read More

Kondisi Fungsional dan Struktural

Media
Perkerasan jalan dibangun untuk melayani lalu-lintas dan pelayanan publik. Karena itu, jalan sedapat mungkin dibangun dengan standar yang tinggi, permukaan rata, tapi masih dalam batas-batas nilai ekonomis. Jika volume lalu-lintas tidak besar, maka tidak begitu diperlukan permukaan yang rata sempurna, tapi dibutuhkan permukaan yang masih dalam batas-batas toleransi, sehingga masih dapat menjamin kelancaran lalu-lintas. Dalam ukuran kerataan permukaan jalan maka ditinjau dari dua sudut pandang (Yoder dan Witczak, 1975), yaitu: Sudut pandang apakah permukaan perkerasan masih cukup rata untuk melayani kendaraan bermotor. Sudut pandang yang dikaitkan dengan indikasi kegagalan satu atau lebih lapisan dalam struktur perkerasan. Distorsi permukaan perkerasan arah memanjang dapat mengakibatkan timbulnya getaran dan goncangan yang berlebihan pada kendaraan yang lewat di atas permukaan perkerasan. Selain itu, distori melintang juga dapat menyebabkan ketidaknyamanan kendaraan. Kondisi fungsional menyatakan kualitas…
Read More