Emulsi Aspal (Asphalt Emulsion)

Media
Dalam pengertian secara umum, emulasi adalah sistem dispersi antara dua bahan zat cair yang tidak saling melarut. Salah satu zat cair itu terdispersi dalam zat yang lain dalam bentuk butir-butir yang sangat halus. Biasanya emulsi terdiri atas minyak dan air. Kalau fase dispersi terdiri atas minyak, emulsi disebut minyak dalam air, dan bila sebaliknya maka disebut air dalam minyak. Agar diperoleh emulsi yang stabil, biasanya ditambahkan zat pengemulsi, seperti sabun dan detergen lain dalam jumlah sedikit. Emulsi alami misalnya susu, terdapat pula emulsi getah karet dalam air. Emulsi banyak digunakan dalam proses-proses industri, seperti dalam pembuatan plastik, obat-obatan dan bahan-bahan kosmetik. Emulsi dikembangkan pertama kali pada awal tahun 1990. Pada tahun 1920-an, emulsi mulai digunakan dalam perkerasan. Awalnya digunakan dalam bentuk semprotan, dan sebagai debu ringan. Dua faktor utama, yairu…
Read More

Cutback Asphalt

Media
Pada banyak pekerjaan jalan, terutama pada pekerjaan jalan yang sederhana, lebih menguntungkan bila digunakan aspal dalam bentuk cair pada temperatur yang relatif lebih rendah dibandingkan dengan aspal penetrasi bermutu tinggi. Material cutback dibuat dari menggabungkan semen aspal dengan minyak yang mudah menguap, yang diperoleh dari destilasi tahap pertama dalam produksi aspal. Aspal cutback ini dibuat dengan menambahkan larutan tersebut dalam semen aspal, dengan tujuan untuk menghasilkan aspal cair yang dapat dikerjakan dengan peralatan tanpa menggunakan temperatur yang tinggi. Sesudah material ini dihamparkan, maka dengan diberikannya waktu perawatan, material ini akan kembali menjadi aspal penetrasi secara normal. Dalam waktu perawatan (curing time), maka akan terjadi penguapan dari komponen yang mudah menguap. Dengan demikian, jika aspal ini dihamparkan pada jalan atau perkerasan, cairan pelarut menguap, dan meninggalkan semen aspal. Berikut ini disampaikan…
Read More

Semen Aspal (Asphalt Cement, AC)

Media
Semen aspal adalah aspal yang diolah untuk memenuhi syarat sebagai bahan-bahan, seperti: perkerasan, atap, industri, dan maksud-maksud khusus yang lain. Semen aspal pada temperatur ruang, yaitu sekitar 20° - 30°C berbentuk padat dan untuk membuat aspal menjadi cair, maka dipanaskan. Dalam masalah perkerasan jalan, semen aspal ini merupakan material semi-padat yang digunakan untuk membuat aspal panas (hot mix), untuk perawatan permukaan perkerasan, lapisan penutup (seal hot) dan pengisi retakan (crack filling). Macam-macam kualitas sistem digunakan untuk menspesifikasikan semen aspal dengan kekerasannya (hardness), kekentalan (viscosity), dan karakteristik kinerja yang diinginkan. Bahan tambah dan/atau perubah dapat dikombinasikan dengan semen aspal untuk merubah sifatnya. Kekentalan (viscosity) adalah suatu ukuran kemampuan aspal untuk mengalir pada temperatur yang diberikan. Aspal semakin kaku, jika kekentalannya semakin tinggi. Pengelompokan semen aspal dilakukan berdasarkan nilai penetrasi pada temperatur…
Read More

Aspal

Media
Aspal merupakan bahan pembentuk lapis permukaan dari perkerasan lentur maupun perkerasan komposit. Aspal juga digunakan sebagai bahan pengikat dalam stabilisasi tanah-dasar atau lapis pondasi. Aspal (asphalt) adalah material hasil penyaringan minyak mentah dan merupakan hasil dari industri perminyakan. Aspal merupakan material untuk perekat, berwarna coklat gelap sampai hitam, dengan unsur pokok yang dominan adalah bitumen. Hidrokarbon merupakan bahan dasar utama dari aspal yang sering disebut bitumen ini. Aspal yang terbentuk dari banyak molekul hidrokarbon ini mempunyai komposisi kimia yang bermacam-macam. Pembentukan kolloid aspal bergantung pada sifat kimia dan persen dari molekul hidrokarbon, serta hubungan satu dengan yang lain. Sifat kimia dan fisik aspal yang bermacam-macam ini, disebabkan oleh bervariasinya sumber minyak mentah dan proses penyaringannya. Di Amerika Utara, bahan pengikat umumnya disebut semen aspal (asphalt cement), sedang di Eropa disebut…
Read More

Lapis Pondasi Bawah (Subbase Course)

Media
Lapis pondasi bawah adalah lapisan yang dihamparkan di antara tanah-dasar dan lapis pondasi. Secara tipikal, bahan lapis pondasi bawah terdiri dari material granuler dipadatkan (baik dirawat maupun tidak) atau lapisan tanah yang distabilisasi dengan bahan tambah tertentu. Material lapis pondasi bawah (subbase) biasanya dirancang lebih rendah kualitasnya dibandingkan dengan material lapis pondasi (base). Dalam beberapa hal, lapis pondasi bawah dirawat atau dicampur dengan semen, aspal, kapur, abuterbang (flyash) untuk menambah kekuatannya. Menurut SNI-1732-1989-F dan Pt T-01-2002-B, macam-macam bahan dengan CBR ≥ 20% dan indeks plastisitas (PI) ≤ 10, yaitu material yang lebih baik dari tanah-dasar, dapat digunakan sebagai bahan lapis pondasi bawah. Sedang DPU (2005) mensyaratkan CBR minimum 35% (agregat kelas C) dan PI antara 4 – 9. Campuran-campuran tanah dengan semen Portland atau kapur dalam beberapa hal juga dianjurkan,…
Read More

Lapis Pondasi (Base Course)

Media
Bahan dasar dari perkerasan, umumnya berupa material granuler yang terdiri dari kerikil atau batu pecah yang mempunyai gradasi tertentu, sehingga membentuk material yang stabil, mudah dikerjakan dan dipadatkan. Lapis pondasi adalah bagian dari perkerasan yang letaknya tepat dibawah lapis permukaan. Lapis pondasi diletakkan di atas pondasi bawah, atau jika tanpa lapis pondasi bawah, maka letaknya langsung di atas tanah-dasar. Lapis pondasi mendukung beban yang berat, sehingga merupakan bagian perkerasan yang penting. Persyaratan material lapis pondasi lebih ketat dibandingkan dengan persyaratan lapis pondasi bawah atau tanah-dasar. Material lapis pondasi (base course) untuk perkerasan lentur didasarkan pada pertimbangan ekonomis, antara lain: Kerikil pecah atau tak pecah Batu pecah bergradasi Makadam Batukapur Koral Terak (slag) Bahan-bahan lapis pondasi harus cukup kuat dan awet, sehingga dapat menahan beban-beban yang bekerja padanya. Oleh karena itu,…
Read More

Lapis Permukaan

Media
Lapis permukaan (surface course) terdiri dari lapis aus (wearing course) dan lapis pengikat (binder course). Lapis aus harus mempunyai keawetan, kedap air, kerataan, dan kekesatan. Karena itu, lapisan ini harus disusun dari campuran beraspal panas (hot mix), bergradasi padat. Dalam praktek, terdapat banyak jenis campuran beraspal yang digunakan untuk lapis permukaan yang digunakan untuk lapis permukaan. Tipe campurannya dicocokkan dengan kondisi lingkungan dan beban lalu-lintas. Tabel 2.3 memperlihatkan komposisi campuran perkerasan bitumen untuk campuran aspal panas (hot mix) yang dispesifikasikan dalam ASTM D 3515. Dispesifikasikan pula dalam ASTM D 1241, gradasi agregat dari material lapis permukaan harus memenuhi syarat Tipe I, gradasi C atauD; atau untuk Tipe II gradasi E atau F (Tabel 2.4). Tabel 2.3 Komposisi campuran perkerasan bitumen padat untuk campuran aspal panas (hot mix) (ASTM D 3515-92)…
Read More

Material Perkerasan Jalan

Media
                            Perkerasan jalan dibuat dari berbagai macam material alam. Pemilihan material harus didasarkan pada beberapa pertimbangan, seperti: persyaratan struktur perkerasan, ekonomis, keawetan, kemudahan dikerjakan dan pengalaman setempat. Material untuk perkerasan lentur dan kaku, meliputi: material granuler atau agregat batuan, aspal, beton dan baja tulangan. Agregat adalah sekumpulan butiran batu pecah, kerikil pasir atau material lain, berupa material alam atau buatan. Sistem perkerasan jalan umumnya mengandung 90 – 95% agregat berdasarkan persen berat atau 70 – 75% persen volume.                              Dalam perkerasan lentur, agregat batuan digunakan sebagai material pembentuk lapis permukaan, lapis pondasi dan lapis pondasi bawah. Material tersebut harus mempunyai gradasi tertentu agar memenuhi…
Read More

Pengaruh Lingkungan

Media
               Lapisan perkerasan berfungsi sebagai penyebar beban ke tanah-dasar. Cara dimana tanah-dasar mendukung beban roda bergantung, selain pada reaksinya terhadap beban, juga terhadap pengaruh lingkungan. 1. Pengaruh Kelembaban. Air di dalam tanah-dasar dapat merupakan hasil infiltrasi air permukaan atau pengaruh dari air tanah. Dijelaskan oleh Yoder dan Witczack (1975), perubahan kadar air pada tanah-dasar akan mengakibatkan dua tipe perubahan, yaitu: Perubahan Volume tanah dan Perubahan Kekuatan. Pengaruh perubahan kadar air (kelembaban) pada kekuatan atau kekakuan tanah-dasar diperhitungkan dengan mengevaluasi parameter kekuatan tanah-dasar (contohnya, CBR dan modulus elastis) pada kadar air yang diperkirakan akan terjadi selama periode rancangan atau umur rencana. Karena itu, penting untuk mengestimasi secara tepat nilai kadar air rancangan yang sesuai dengan kondisi lapangan jangka panjang. Jadi, sensitifitas kekuatan/kekakuan tanah-dasar pada perubahan…
Read More

Tanah Dasar

Media
Perkerasan berfungsi  untuk memberikan permukaan halus pada kendaraan untuk segala musim. Kinerja perkerasan tersebut dipengaruhi oleh karakteristik tanah-dasar. Tanah sebagai pondasi  yang secara langsung menerima beban lalulintas dari lapis perkerasan yang berada diatasnya, disebut tanah-dasar (subgrade). Karena tanah-dasar merupakan bagian dasar, di mana pondasi bawah (subbase), pondasi (base) atau perkerasan berada, maka integritas dari struktur perkerasan bergantung pada stabilitas struktur tanah-dasar. Tanah-dasar merupakan tanah dengan ketebalan tertentu yang didapatkan. Umumnya, tanah-dasar yang berfungsi sebagai alas/pondasi jalan, terdiri dari material dalam galian atau urugan didapatkan dengan kedalaman tertentu dibawah dasar struktur perkerasan. Semakin kaku perkerasan, maka penyebaran tekanan roda ke tanah-tanah semakin mengecil. Dengan demikian, kedalaman tanah-dasar akan bervariasi dan bergantung pada besarnya beban dan tipe perkerasan. Perkerasan jalan sebagai lapisan pelindung tanah-dasar, mendistribusikan beban roda kendaraan ke tanag-dasar tersebut. Tanpa…
Read More