Kediri, Jawa Timur, Indonesia

Perancangan Lalu Lintas

PENDAHALUAN

Dalam perancangan tebal perkerasan, diperlukan hitungan perancangan volume lalu-lintas rancangan (design traffic). Pertimbangan-pertimbangan yang harus diperhatikan, mencakup beban gandar, konfigurasi dan jumlah pengulangan beban atau jumlah beban gandar total. Terdapat dua metoda perancangan (Yoder dan and witczak, 1975 ):

  • Metoda lalu-lintas
  • Metoda kendaraan tetap.

Dalam metoda lalu-lintas tetap (fixed traffic), tebal perkerasan diperhitungkan terhadap beban roda tunggal, dan jumlah pengulangan beban tidak diperhitungkan sebagai variable. Jika pengerasan dipengaruhi oleh beban roda banyak (tidak tunggal), maka bebannya harus dikonversikan ke dalam nilai beban roda tunggal ekivalen (equivalent single-whel load, ESWL) dan metoda rancangan selanjutnya didasarkan pada roda tunggal. Konsep konversi beban roda banyak menjadi beban roda tunggal menjadi sangat penting utuk di pelajari. Metoda ini sering dipakai untuk perancangan perkerasan bandara atau jalan raya dengan beban berat tapi dengan volume lalu-lintas rendah.

Dalam metoda kendaraan tetap (fixed vehicle), macam-macam lalu-lintas dalam suatu periode waktu tertentu (atau diistilahkan sebagai periode analisis lalu-lintas) dihitung, dan dinyatakan sebagai faktor kerusakan ekivalen relatif terhadap beban gandar atau sumbu tunggal standart 18 kip (80 Kn). Jika beban gandar tidak 18 kip atau terdiri dari gandar tendem atau tridem, maka bebannya harus dikonversikan kedalam 18 kip, yaitu dengan menggunakan faktor beban gandar ekivalen (equivalent axle load factor, E).

Dalam perancangan perkerasan jalan baru, estimasi volume lalu-lintas pada saat jalan dibuka pertama kali sangat penting. Untuk ini dibutuhkan data survey lalu-lintas. Dalam survey tersebut, dilakukan pencatatan kendaraan yang lewat untuk arah yang berbeda dengan memperhatikan kategori kendaraanya.

Dalam menentukan lalu-lintas rancangan (design traffic), maka diperlukan estimasi :

  • Volume dan komposisi lalu-lintas tahun pertama.
  • Laju pertumbuhan lalu-lintas tahunan menurut tipe kendaraan.
  • Besarnya beban roda menurut tipe kendaraan.
  • Jumlah aplikasi beban-beban roda dalam lajur lalu-lintas rencana.

Langkah (1) dan (2) diperoleh oleh dari survei lalu-lintas dan perkiraan yang didasarkan pada kecenderungan atau prediksi dari model transportasi. Data dan parameter lalu-lintas yang dibutuhkan untuk perancangan tebal perkerasan meliputi:

  • Jenis kendaraan
  • Volume lalu lintas harian rata-rata.
  • Pertumbuhan lalu-lintas tahunan.
  • Umur rancangan.
  • Faktor distribusi arah.
  • Factor distribusi lajur.
  • Equivalent Single Axel Load (ESAL) selama umur rancangan

UMUR RANCANGAN

Dalam perancangan perkerasan, diperlukan pemilihan umur rancangan atau periode perkerasan. Umur rancangan adalah waktu di mana perkerasan diharapkan mempunyai kemampuan pelayanan sebelum dilakukan pekerjaan rehabilitasi atau kemampuan pelayanannya berakhir. Dalam Pt. T-01-2002-B, periode rancangan diistilahlan sebagai umur rancangan. Umur rancangan merupakan jumlah waktu dalam tahun yang dihitung sejak perkerasan jalan mulai dibuka untuk lalu-lintas, sampai saat diperlukan perbaikan kerusakan berat, atau dianggap perlu dilakukan lapir permukaan baru.

Parameter perancangan yang berpengaruh pada umur pelayanan total dari perkerasan adalah jumlah total beban lalu-lintas. Oleh sebab itu, lebih cocok bila untuk menggambarkan umur rancangan perkerasan dinyatakan dalam istilah beban lalu-lintas rancangan total (total design traffic loading). Dari pengertian ini, bila perkerasan dirancangan untuk 40 tahun dengan pertumbuhan lalu-lintas 2,5%, namun dalam kenyataan pertumbuhan lalu-lintasnya 3,5%, maka umur perkerasan akan lebih pendek dari yang direncanakan tersebut.

Umur rancangan perkerasan jalan dipertimbangkan terhadap nilai ekonomi jalan yang bersangkutan dan kinerja perkerasan harus maksimum dalam periode yang ditentukan. Karena itu, oleh pertimbangan tidak cukupnya dana yang tersedia, kadang-kadang pembangunan dilakukan secara bertahap awal, yaitu pembangunan perkerasan awal, yang kemudian diikuti dengan satu atau lebih pekerjaan rehabilitasi. AASHTO (1993) menyarankan umur perkerasan yang diistilahkan dengan periode analisi, seperti yang ditunjukkan dalam Tabel 3.1.

Tabel 3.1 Umur rancangan perkerasan (AASHTO, 1993)

Kondisi jalan raya

Periode analisis atau

umur rancangan (tahun)

Perkotaan volume tinggi 30 ‒ 50
Perdesaan volume tinggi 20 ‒ 50
Volume rencah, jalan perkerasan 15 ‒ 25
Volume rendah, permukaaan agregat 10 ‒ 20

 

Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah (Pd T-14-2003) menyarankan umur rancangan perkerasan kaku (beton) 10 ‒ 20 tahun. Umur rancangan ditentukan dengan mempertimbangkan klasifikasi fungsional jalan, pola lalu-lintas, serta nilai ekonomi jalan yang bersangkutan, yang dapat ditentukan antara lain dengan metoda Benefit Cost Ratio, Internal Rate of Return, atau kombinasi dari metoda-metoda tersebut atau cara lain yang tidak terlepas dari pola pengembangan wilayah.

 

Hardiyatmo, Hary Christady. 2019. “Perancangan Perkerasan Jalan dan Penyelidikan Tanah”. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada (UGM-Press).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *