Kediri, Jawa Timur, Indonesia

Aspal

Aspal merupakan bahan pembentuk lapis permukaan dari perkerasan lentur maupun perkerasan komposit. Aspal juga digunakan sebagai bahan pengikat dalam stabilisasi tanah-dasar atau lapis pondasi. Aspal (asphalt) adalah material hasil penyaringan minyak mentah dan merupakan hasil dari industri perminyakan. Aspal merupakan material untuk perekat, berwarna coklat gelap sampai hitam, dengan unsur pokok yang dominan adalah bitumen. Hidrokarbon merupakan bahan dasar utama dari aspal yang sering disebut bitumen ini. Aspal yang terbentuk dari banyak molekul hidrokarbon ini mempunyai komposisi kimia yang bermacam-macam. Pembentukan kolloid aspal bergantung pada sifat kimia dan persen dari molekul hidrokarbon, serta hubungan satu dengan yang lain. Sifat kimia dan fisik aspal yang bermacam-macam ini, disebabkan oleh bervariasinya sumber minyak mentah dan proses penyaringannya. Di Amerika Utara, bahan pengikat umumnya disebut semen aspal (asphalt cement), sedang di Eropa disebut “bitumen”.

Ter (tar) diperoleh dari kondensasi destilasi yang dihasilkan dari destilasi destruktif bahan organik seperti batubara dan kayu. ASTM mendefinisikan ter sebagai material bitumen berwarna coklat atau hitam, yang mempunyai konsistensi cair atau semipadat, dimana bahan pembentuk utamanya bitumen yang diperoleh selama kondensasi dalam destilasi yang bersifat merusak dari batubara, minyak, kayu, atau bahan organik lain, dan yang menghasilkan banyak bahan hitam pekat ketika destilasi. Sifat-sifat semen aspal akan berpengaruh pada kinerja aspal pada perkerasan jalan.

Menurut asal terjadinya, aspal dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu (Krebs dan Walker, 1971):

  1. Aspal alam
  2. Aspal buatan.

Aspal alam adalah aspal yang diperoleh langsung dari alam. Aspal alam ini di dapat dibedakan  menjadi aspal gunung (misalnya, aspal dari Buton) dan aspal danau (misalnya, aspal dari Bermudez, Trinidad)

Aspal buatan adalah aspal yang dibuat dengan cara memproses residu hasil destilasi minyak bumi. Residu tersebut dapat dibedakan menjadi: asphaltic base crude oil, paraffin base crude oil dan mixed base crude oil. Dari ke tiga bahan ini asphaltic base crude oil mengandung kadar aspal tertinggi. Aspal buatan dapat dibedakan menjadi:

  1. Aspal minyak yang berasal dari penyulingan minyak bumi.
  2. Ter (tar) yang berasal dari penyulingan batubara

Pada temperatur rendah, aspal merupakan bahan yang padat atau semi-padat. Pada ketinggian temperatur tertentu aspal menjadi lunak (cair). Agar bisa digunakan untuk pemeliharaan perkerasan dan untuk menyelimuti agregat dengan aspal, maka aspal harus cukup air. Untuk membuat aspal menjadi cair, maka dilakukan dengan tidak cara, yaitu dengan cara:

  1. Memanaskan
  2. Melarutkan dalam larutan minyak yang disebut aspal cutback (cutback asphalt).
  3. Mengkombinasikan dengan air yang disebut emulsi aspal (asphalt emulsion).

Penggunaan aspal di dalam struktur perkerasan jalan raya harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

  1. Suhu saat aspal mulai menyala. Hal ini terkait dengan batas pemanasan ijin dengan tanpa menimbulkan bahaya kebakaran.
  2. Suhu pada saat aspal mulai meleleh. Hal ini terkait dengan proses pencampuran, penghamparan dan pemadatan.
  3. Penetrasi aspal. Hal ini terkait dengan lokasi penggunaan aspal, jenis struktur yang ditangani, dan kepadatan lalu-lintas.
  4. Kehilangan berat akibat pemanasan. Hal ini terkait denfan pencegahan terhadap kerapuhan aspal.

Aspal keras, adalah semen aspal yang dalam penggunaannya dipanaskan lebih dulu hingga menjadi cair sampai suhu tertentu, dan berbentuk padat pada suhu ruang sekitar 25 – 30◦C (Krebs dan Walker, 1971).

Kekerasan aspal dinyatakan dengan angka penetrasinya. Angka penetrasi aspal menyatakan tingkat kekerasan aspal atau tingkat konsistensi aspal yang diukur dengan besarnya penetrasi jarum standar secara vertikal ke dalam benda uji aspal yang telah diketahui kondisi temperatur, beban dan waktunya. Semakin besar angka penetrasi, maka tingkat kekerasannya semakin rendah, karena semakin lembek. Sebaliknya, semakin kecil angka penetrasinya, tingkat kekerasannya semakin tinggi, karena aspal semakin menjadi semi-padat sampai padat.

Sebagai bahan untuk campuran perkerasan, aspal harus mempunyai kinerja, kekuatan dan keawetan yang memadai. Karena itu, pemilihan macam aspal harus dipertimbangkan terhadap tinjauan jenis, sifat-sifat dan maksud penggunannya yang terkait dengan syarat teknis dan kondisi lapangan.

Sifat fisik aspal yang diperhitungkan dalam perancangan pembangunan dan pemeliharaan jalan, adalah:

  1. Daya tahan atau keawatean (durability), yaitu kemampuan aspal dalam mempertahankan sifat aslinya oleh akibat pengaruh cuaca, selama masa pelayanan jalan.
  2. Adhesi dan kohesi. Adhesi, yaitu kemampuan aspal dalam mengikat agregat campuran, sehingga mengahasilkan ikatan yang baik. Kohesi adalah kemampuan aspal untuk tetap mempertahankan ikatan aspal dengan aspal yang melekat pada agregat, sehingga agregat tetap di tempanya.
  3. Peka terhadap temperatur, karena aspal bersifat termoplastik, yaitu aspal akan menjadi keras atau kental pada temperature rendah, dan melunak atau meleleh pada temperature tinggi.

Aspal pada lapis perkerasan jalan berfungsi sebagai bahan ikat antar butiran agregat agar terbentuk material yang padat, sehingga dapat memberikan kekuatan dan ketahanan campuran dalam mendukung beban kendaraan. Aspal dibutuhkan dalam jumlah tertentu untuk mengikat partikel-partikel agregat, mengisi rongga antar agregat. Kadar aspal yang rendah dalam campuran akan mengurangi keawetan, kelenturan, kekuatan, kekedapan terhadap air dan mengurangi kemudahan dikerjakan (workability). Tetapi, bila aspal terlalu banyak juga akan mengakibatakan stabilitas dan kekakuan campuran yang rendah.

Seperti telah disebutkan, aspal merupakan bahan yang bersifat termoplastis yang kekentalannya berubah sesuai dengan perubahan suhu. Pada suhu tinggi, aspal berbentuk cair dan mampu mengisi rongga antara butiran. Tapi, bila pemanasan terlalu tinggi, maka akan menyebabkan aspal tidak dapat menyelimuti agregat secara merata, sehingga ikatan dengan agregat menjadi berkurang.

 

Hardiyatmo, Hary Christady. 2019. “Perancangan Perkerasan Jalan dan Penyelidikan Tanah”. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada (UGM-Press)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *