Kediri, Jawa Timur, Indonesia

Lapis Pondasi Bawah (Subbase Course)

Lapis pondasi bawah adalah lapisan yang dihamparkan di antara tanah-dasar dan lapis pondasi. Secara tipikal, bahan lapis pondasi bawah terdiri dari material granuler dipadatkan (baik dirawat maupun tidak) atau lapisan tanah yang distabilisasi dengan bahan tambah tertentu. Material lapis pondasi bawah (subbase) biasanya dirancang lebih rendah kualitasnya dibandingkan dengan material lapis pondasi (base). Dalam beberapa hal, lapis pondasi bawah dirawat atau dicampur dengan semen, aspal, kapur, abuterbang (flyash) untuk menambah kekuatannya.

Menurut SNI-1732-1989-F dan Pt T-01-2002-B, macam-macam bahan dengan CBR ≥ 20% dan indeks plastisitas (PI) ≤ 10, yaitu material yang lebih baik dari tanah-dasar, dapat digunakan sebagai bahan lapis pondasi bawah. Sedang DPU (2005) mensyaratkan CBR minimum 35% (agregat kelas C) dan PI antara 4 – 9. Campuran-campuran tanah dengan semen Portland atau kapur dalam beberapa hal juga dianjurkan, agar kestabilan struktur perkerasan maksimal.

Untuk perkerasan kaku, NAVFAC-DM-5.4(1979) menyarankan semua bahan lapis pondasi bawah untuk perkerasan lentur dapat digunakan untuk perkerasan kaku, dengan CBR minimum 30%. Bahan lapis pondasi bawah harus bergradasi baik sesuai AASHTO M-147. Batas cair (LL) ≤ 25 dan indeks plastisitas (PI) ≤ 5. Asphalt institute (1999) mensyaratkan bahan lapis pondasi dan pondasi bawah.

SNI 03-6388-2000 mensyaratkan bahan lapis pondasi bawah dengan gradasi A, B, C, D, E atau F, harus memenuhi syarat umum seperti pada butir (3). Jenis bahan dan gradasi yang diinginkan harus ditetapkan. Dalam ASTM D 2940-98 disyaratkan gradasi untuk lapis pondasi bawah.

SNI 03-6388-2000 mendefinisikan:

Agregat kasar adalah:

  1. Agregat kasar tertahan pada saringan 2 mm (no. 10) harus terdiri dari butiran-butiran atau pecahan batu, kerikil atau slag yang keras dan awet.
  2. Nilai keausan agregat kasar, sesuai dengan SNI 03-2417-1991, tidak lebih dari 50%.

Agregat halus adalah:

  1. Agregat halus lolos saringan 2 mm (no.10) harus terdiri dari pasir alam atau abu batu dan mineral yang lolos saringan 0.075 mm (no.200).
  2. Agregat halus lolos saringan 0.075 mm (no.200) harus tidak lebih dari 2/3 fraksi lolos saringan 0.425 (no.40). fraksi yang lolos saringan 0.425 mm (no.40) tidak boleh memiliki batas cair (LL) lebih dari 25 dan batas plastis (PL) tidak boleh lebih dari 6.

Hardiyatmo, Hary Christady. 2019. “Perancangan Perkerasan Jalan dan Penyelidikan Tanah”. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada (UGM-Press)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *