Kediri, Jawa Timur, Indonesia

Lapis Pondasi (Base Course)

Bahan dasar dari perkerasan, umumnya berupa material granuler yang terdiri dari kerikil atau batu pecah yang mempunyai gradasi tertentu, sehingga membentuk material yang stabil, mudah dikerjakan dan dipadatkan. Lapis pondasi adalah bagian dari perkerasan yang letaknya tepat dibawah lapis permukaan. Lapis pondasi diletakkan di atas pondasi bawah, atau jika tanpa lapis pondasi bawah, maka letaknya langsung di atas tanah-dasar. Lapis pondasi mendukung beban yang berat, sehingga merupakan bagian perkerasan yang penting.

Persyaratan material lapis pondasi lebih ketat dibandingkan dengan persyaratan lapis pondasi bawah atau tanah-dasar. Material lapis pondasi (base course) untuk perkerasan lentur didasarkan pada pertimbangan ekonomis, antara lain:

  1. Kerikil pecah atau tak pecah
  2. Batu pecah bergradasi
  3. Makadam
  4. Batukapur
  5. Koral
  6. Terak (slag)

Bahan-bahan lapis pondasi harus cukup kuat dan awet, sehingga dapat menahan beban-beban yang bekerja padanya. Oleh karena itu, sebelum menentukan bahan-bahan untuk lapis pondasi, maka perlu dilakukan pengujian bahan. Untuk bahan lalu-lintas tinggi, material lapis pondasi juga sering distabilisasi dengan aspal, semen, kapur, kalsium khlorida, sodium khlorida, abuterbang (flyash).

Material lapis pondasi harus menyediakan karakteristik drainase dan stabilitas yang baik. Tebal lapis pondasi bergantung pada sifat-sifat lapisan di bawahnya. Material lapis pondasi umumnya dihamparkan sampai di bawah bahu jalan dan kereb. Lapis pondasi, tidak hanya melayani beban lalu-lintas, namun juga harus memberikan lapis drainase yang lancer jika lapis permukaan kemasukan air dari permukaan. Bagian lapis pondasi yang berada di bawah bahu jalan, agar bisa memberikan aliran drainase yang kontinyu, sering dibuatkan saluran drainase bawah permukaan yang arahnya sejajar dengan sumbu jalan.

Kriteria kekuatan lapis pondasi (base) dan lapis pondasi-bawah (subbase) biasanya didasarkan pada nilai CBR atau nilai-R (R-value). Untuk memperoleh karakteristik tegangan-regangan (modulus elastis), maka nilanya dapat ditentukan dari triaksial dengan beban berulang.

Menurut SNI 1732-1989-F dan Pt T-01-2002-B, macam-macam bahan alam yang mempunyai CBR ≥ 50% dan indeks plastisitas (PI) ≤ 4 dapat digunakan untuk lapis pondasi, contohnya:  batu pecah, kerikil pecah dan tanah yang telah distabilisasi dengan bahan tertentu seperti semen atau kapur. Sedang DPU (2005) mensyaratkan lapis pondasi mempunyai CBR antara 65-95% (bergantung pada klasifikasinya) dan PI ≤ 6.

Hardiyatmo, Hary Christady. 2019. “Perancangan Perkerasan Jalan dan Penyelidikan Tanah”. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada (UGM-Press)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *