Kediri, Jawa Timur, Indonesia

Kondisi Fungsional dan Struktural

Perkerasan jalan dibangun untuk melayani lalu-lintas dan pelayanan publik. Karena itu, jalan sedapat mungkin dibangun dengan standar yang tinggi, permukaan rata, tapi masih dalam batas-batas nilai ekonomis. Jika volume lalu-lintas tidak besar, maka tidak begitu diperlukan permukaan yang rata sempurna, tapi dibutuhkan permukaan yang masih dalam batas-batas toleransi, sehingga masih dapat menjamin kelancaran lalu-lintas. Dalam ukuran kerataan permukaan jalan maka ditinjau dari dua sudut pandang (Yoder dan Witczak, 1975), yaitu:

  1. Sudut pandang apakah permukaan perkerasan masih cukup rata untuk melayani kendaraan bermotor.
  2. Sudut pandang yang dikaitkan dengan indikasi kegagalan satu atau lebih lapisan dalam struktur perkerasan.

Distorsi permukaan perkerasan arah memanjang dapat mengakibatkan timbulnya getaran dan goncangan yang berlebihan pada kendaraan yang lewat di atas permukaan perkerasan. Selain itu, distori melintang juga dapat menyebabkan ketidaknyamanan kendaraan.

Kondisi fungsional menyatakan kualitas kenyamanan kendaraan yang terutama bergantung pada kekasaran permukaan perkerasan. Karakteristik fungsional, kecuali berhubungan langsung dengan karakteristik profil permukaan, juga terkait dengan karakteristik kekesatan. Walaupun kekesatan tidak terkait dengan kinerja struktur perkerasan, namun kekesatan menentukan kualitas fungsional yang mempengaruhi keamanan lalu-lintas kendaraan. Kegagalan fungsional ditandai dengan tidak berfungsinya perkerasan dengan baik, sehingga kenyamanan dan keselamatan pengendara menjadi terganggu. Kegagalan fungsional bergantung terutama pada derajat kekasaran permukaan.

Kondisi struktural bergantung pada daya dukung dan kondisi dari perkerasan secara stuktural. Ullidtz (1987) mendefinisikan, daya dukung perkerasan sebagai jumlah lintasan roda dengan tipe kendaraan yang dispesifikasikan, di mana perkerasan masih dapat mendukung, sebelum perkerasan tersebut mencapai tingkat kerusakan fungsional dan structural yang tidak dapat diterima. Dalam pekerjaan evaluasi structural, evaluasi bertujuann untuk menentukan kemampuan struktur dari system perkerasan saat ini, dan untuk memprediksi umur pelayanan di masa datang, yang dipertimbangkan terhadap volume lali-lintasnya. Kegagalan struktural ditandai dengan terurainya satu atau lebih komponen perkerasan

Pengertian mengenai kegagalan struktural dan fungsional dari suatu perkerasan dibutuhkan dalam menentukan kemungkinan tipe perbaikan perkerasan yang akan dilakukan. Untuk itu, perlu dipelajari berbagai macam tipe kerusakan perkerasan, khususnya dalam memperkirakan apakah kerusakan perkerasan akan berlanjut dan memicu kegagalan perkerasan jalan, ataukah kerusakan tidak berlanjut.

Dalam proses perancangan, harus dibedakan anatara kegagalan fungsional dan struktural dari perkerasan. Dalam perkerasan jalan raya, faktor utama yang menjadi pertimbangan adalah kegagalan fungsional, walaupun dalam kenyataannya kekerasan juga dirancang dengan mempertimbangkan kemungkinan terjadinya kegagalan struktural.

 

Hardiyatmo, Hary Christady. 2019. “Perancangan Perkerasan Jalan dan Penyelidikan Tanah”. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada (UGM-Press)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *